Jadi.., beli bensinnya dimana Pak ?

Jadi.., beli bensinnya dimana Pak ?

Pertamini. (Heru Fachrozi)

Judul : Jadi.., beli bensinnya dimana Pak ?
Karya : Heru Fachrozi

— Tiap pagi, sebelum beduk subuh berbunyi, pasangan suami isteri, Ratno dan Ratmi, selalu terjaga lebih awal dari lelap tidur. Saking, dininya, dua orang warga diujung Provinsi Jawa Timur ini kerap mendahului kokok ayam jantan, yang menyambut datangnya terbit matahari.

Ratno yang bertugas menyiapkan sayur – sayuran mulai dari bayam, kubis, dan brokoli yang dimasukan dalam ambung atau keranjang yang terbuat dari rotan.

Sementara Ratmi menyiapkan makan pagi seadanya. Tidak lupa bertitip pesan pada putra sulungnya, Ulung, yang berusia 17 tahun, untuk jaga dua adiknya berusia 10 tahun dan 7 tahun, dan bantu adik – adik mandi serta jangan lupa makan pagi sebelum pergi ke sekolah.

Brum.. brum.. brum.., dengan tangan kanan memegang stang motor, tangan kiri memegang sebatang rokok, Ratno mengecek kesiapan motor yang selama ini menjadi Pahlawan bagi keluarganya.

Meskipun motor lawas Honda Astrea milik Ratno tidak berusia muda lagi, tapi tidak memakan waktu lama baginya untuk memanaskan mesin motor keluaran Jepang ini. Maklum, Ratno memang terkenal rajin merawat motornya, jadi hingga sekarang motornya tetap dalam kondisi baik.

Dengan menempuh perjalanan lebih kurang 15 kilometer setiap harinya menuju Pasar Induk Provinsi Jawa Timur, lengkap di sisi kanan dan kiri motor terdapat ambung ukuran lumayan besar berisi sayur – sayuran yang akan dijual. Ditambah bobot tubuh isteri dan dirinya, motor legenda ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Jaket, biasa menemani kedua orang tua ini. Maklum saja, angin pegunungan dan hawa dingin penggunungan menjadi hal yang tidak bisa dilawan karena sudah kodrat alam dikaki gunung.

Perjuangan hiduppun dimulai.
Kali ini, perjalanan agak sedikit berbeda dirasakan Ratno dan Ratmi. Belum juga ditengah perjalanan, hujan menghampiri. Kali ini hujan turun agak lebat, tidak seperti biasanya, karena hujan rintik – rintik dipegunungan hal yang tidak aneh bagi mereka.

Hujan ini membuat mereka lebih awal menemukan masjid yang bukan tempat mereka untuk sholat Subuh. Baiklah, kata Ratno kepada isterinya, kita berteduh disini.

Tidak lama, hujan reda. Mereka melanjutkan perjalanan. Dengan sedikit agak kencang gas motor dimainkan Ratno untuk mengejar sisa waktu yang terbuang. Karuan saja, membuat Ratmi menjadi panik dan semakin erat pelukan tangannya di lingkar perut Ratno. Sambil sesekali teriak, “Awas Pak.., Jangan Ngebut Pak..”. Karena Ratmi tahu jalan banyak digenangi air akibat hujan.

Dan tiba – tiba, ditengah perjalanan. Motor mereka terhenti. “Waduh, ada apa ini motor,” kata Ratno.
“Ada apa Pak,” timpal Ratmi.

Ratno pun langsung menurunkan standar motor, memeriksa kondisi motor. Sambil geleng – geleng kepala, Ratno mengusap kepalanya yang penuh rambut putih, berucap “Bensinnya abis, Bu. Pasti ini motor dipake Ulung, karena kemarin bensin motor Bapak isi penuh kok,” keluhnya.

Motor tua Ratno memang tidak ada lagi speedometer bensin, jadi untuk melihat tangki motor berisi bensin atau tidak harus dibuka manual dari bawa jok motor.

Karena tidak ingin kehilangan waktu, dan tidak ingin ditinggalkan pelanggannya. Motor tuanya  akhirnya didorong melintasi pegunungan. Dan sesekali Sang Isteri mendorong motor menggatikan Sang Suami rehat sejenak minum air.

“Pak, itu ada yang jual bensin,” ujar Ratmi sambil menunjuk Pertamini, usaha Pom Bensin alias SPBU akronim Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum milik masyarakat, yang menjual Pertalite dan Bensin, setelah mereka melewati lebih dari setengah perjalanan.

“Gak akh.. Bu, didepan gak jauh lagi ada Pom Bensin,” kilah Ratno.
“Itu kan (Pertamini), juga jual bensin Pak?, ” ucap Ratmi binggung.
“Pertamini itu gak resmi, kita beli di Pom Bensin resmi saja milik Pertamina. Dijamin bersih dak kotor bensinnya, dan pas literannya,” terang Ratno.

Coba tahu tadi, sambil menggerutu, Ratmi bergumam kalo bensin motor habis dekat rumah Pak Darto tadi kan ada SPBU kita isi bensin disana.

Ratnopun tidak menggubris omelan isterinya dan meneruskan mendorong motornya. Tiba – tiba terdengar suara azan subuh. “Udah Bu, kita istirahat sambil solat subuh, di masjid ini,” pinta Ratno diaminkan isterinya.

Disisa perjalanan 3 kilo meter lagi, Ratno dan Ratmi melanjutkan perjalanan usai menghadap Sang Pencipta.

“Sabar ya Bu, tidak jauh dari masjid ini ada kok Pom Bensin, kita isi full bensin motor kita,” ucap Ratno memulai mendorong motor.
“Ya, Pak. Tapi, kaki ibu mulai terasa pegal – pegal,” ujar Ratmi.

Tiba – tiba.
“Lha Bu…, Pom Bensinnya kok jadi rumah makan. Waduh…, siapa yang tutup. Beli dimana ini bensin,” ketus Ratno sambil geleng – geleng kepala.

“Sini Pak biar saya tanya warga sini, kemana pindah Pom Bensinnya.”
“Ada Bu,”?
“Pindah disebelah Pasar Induk, Pom Bensinnya Pak, kata orang itu,” kata Ratmi.

“Ya udah dorong lagi aja.”

“Nah itu Pak, ada Pom Bensin,” tunjuk Ratmi.
“Itu Pertamini Bu, nanti motor kita rusak, isi bensin ditempat sembarangan,” kilahnya.
“Jadi.., beli bensinnya dimana Pak ?,” tanya kesal Sang Isteri.
“Ya, Pom Bensin aja Bu. Kan orang tadi bilang deket Pasar Induk. Deket lagi kok Pasar Induk.”
“Sini Ibu naik motor, didepan ada turunan, lumayan Kan Bu.. Untuk obat pegal – pegal,” hiburnya untuk Sang Isteri.

Sambil melintasi turunan jalan di kelokan gunung – gunung, Ratno bertutur kepada isteri bahwa dia pernah mendapat cerita dari Pak Handoyo, Pegawai Pertamina, lebih baik beli bensin di Pom Bensin yang resmi milik Pertamina, daripada di Pom Bensin tidak resmi. Pertamini itu bukan milik Pertamina, jadi  tidak standar Pertamina apa yang ada di Pertamini baik mesin maupun bensin yang dijual. Tidak terjamin kualitas bensin, bensin kotor bisa merusak mesin motor, serta literannya tidak pas.

“Itu Pom Bensin Pak…”
“Itu Pertamini Bu. Sabar, deket lagi Pasar Induk kok.”
“Siapa tahu saja, yang dijual di Pertamini itu dari minyak curian, kalo beli di Pertamini sama saja kita mendukung maling, bisa masuk penjara kita Bu,” sambung Ratno.

Tidak lama kemudian, sayup – sayup terdengar hiruk pikuk suasana pasar hingga terdengar jelas transaksi jual beli di pasar antar pedagang dan pembeli.

Hingga akhirnya dengan sisa tenaga yang dimiliki, Ratno mendorong motornya mendekati SPBU milik Pertamina yang bersebelahan dengan Pasar Induk. Sementara, Ratmi yang telah lama ditunggu langganannya, menerima transaksi pembelian sayuran dari pedagang sayuran yang biasa berjualan sayuran di kaki lima Pasar Induk.

Dengan penuh kelegaan dan senyum sumringah, Ratno dan Ratmi akhirnya pulang kerumah mereka dengan membawa ambung alias keranjang yang tidak bersisa satupun sayuran. **

Profil Penulis : 

Lahir di Muara Enim, 12 Mei 1983, dengan nama Heru Fachrozi, dan saat ini menjabat Pemimpin Redaksi www.rubrikini.co.id, serta memegang sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dengan jenjang Utama. Kontak (Telepon : 081320300634 & Email : herufachrozi2012@gmail.com). Terima kasih. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *