Nan Budiman saat menyampaikan paparan. (ri-zi)

SawaLunto – rubrikini.co.id, Manajemen Unit Pertambangan Ombilin (UPO) PT Bukit Asam (PTBA) Tbk menerima kunjungan belajar awak media Kabupaten Muara Enim di Kantor UPO, Jumat (20/12/2019).

Pada kesempatan ini, General Manager UPO, Nan Budiman didampingi Jajarannya, menyambut kedatangan awak media yang dipimpin Asisten Manager Humas PTBA, Muhamad Saman didampingi Staf, Ahmad Firdaus.

Nan mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada rombongan dari Muara Enim atas   kunjungan ke UPO.

Sebelum bercerita Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, Nan menyampaikan bahwa dengan kalori batubara 7300 yang menjadikan kualitas batubara Sawahlunto terbaik di dunia, UPO memanfaatkan cadangan batubara yang ada untuk industri hilirisasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di wilayah Ombilin, dengan produsi batubara 200 ribu ton per tahun.

“Wilayah UPO tetap melakukan melakukan penambangan batubara disisa izin penambangan batubara hingga tahun 2020 dengan sisa 23 juta ton cadangan batubara, sehingga nantinya PLTU di Ombilin bisa memanfaatkan lagi batubara untuk PLTU,” urainya.

Kemudian, menurut Nan, untuk penobatan Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto dari Unesco dikarenakan UPO sejak produksi batubara tahun 1892 telah memberikan kontribusi pada dunia dibuktikan oleh pengakuan dunia banyak batubara dari UPO memberikan kontribusi pada masa revolusi industri di Eropa.

“Sehingga pantas Ombilin Sawahlunto dinobatkan menjadi Warisan Dunia Unesco karena dampaknya tidak hanya di Sawahlunto tapi sampai dunia,” urainya.

Dengan kawasan penambangan Ombilin Sawahlunto ditetapkan menjadi Warisan Dunia Unesco pada sidang ke-43 Komiten Warisan Dunia UNESCO PBB di Pusat Kongres Baku, Azerbaijan, Sabtu 6 Juli 2019, lanjut Nan, UPO akan memaksimalkan Sawahlunto sebagai World Heritage.

Di lahan UPO seluas 2935 hektar dimana 1800 hektar milik Bukit Asam sebanyak 68 bangunan dijadikan areal wisata, seperti wisata air, road race, kebun binatang, agroforestry, tempat memancing, arena balap tanah hitam, gazebo, gapura, museum tambang dan wisata tambang.

“Teknisnya, pemeliharaan aset wisata oleh UPO sedangkan pengelolaan diserahkan ke Pemkot Sawahlunto,” kata Nan. (ri-zi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *