Maggot, Gilang Yang Bersahabat Dengan Sampah

Maggot, Gilang Yang Bersahabat Dengan Sampah

— Bagi sebagian orang sampah merupakan hal yang menjijikan dan menjadi barang yang tidak berharga. Sampah menjadi momok menakutkan, karena bisa menyebabkan munculnya beragam sumber panyakit.

Sejumlah karyawan Bumdes dengan mesin mengolah sampah organik untuk diproses menjadi bubur sampah sebagai makanan larva BSF di TPST Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, (2/9/21). (Foto : Budi Purwanto)


Namun demikian, tidak halnya dengan seorang pria 36 tahun asal Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah bernama Arky Gilang Wahab. Gilang sapaan akrabnya kini dikenal sebagai pejuang lingkungan karena mampu meracik sampah sampah menjadi pundi pundi cuan (uang,red).

Sejumlah karyawan Bumdes memproduksi sampah organik untuk diproses menjadi bubur sampah sebagai makanan larva BSF di TPST Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, (2/9/21). (Foto : Budi Purwanto)


Usai menamatkan kuliahnya dari Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2009, Gilang mencoba bertahan hidup di kota kota besar. Alhasil, ia berhasil mendirikan usaha di Jakarta dan Bandung, yang telah mampu menghasilkan rupiah dalam jumlah yang sangat positif.
Hidup di kota metropolitan yang serba ada dijalaninya bertahun – tahun selama menjalankan bisnisnya. Akan tetapi, hati kecilnya tidak bisa berbohong, nuraninya memanggil untuk bisa mengabdikan diri di kampung halamannya.
Hingga akhirnya, Gilang pun rela balik kampung untuk bisa totalitas menggeluti dunia maggot alias lalat tentara hitam. Dimana satu hal yang menjadi tekadnya yaitu ingin membangun tanah kelahirannya, yang saat dijumpainya penuh dengan tumpukan sampah. Dengan mengucapkan Bismilah, serta keyakinan kuat, ia mencoba dan melihat sekaligus menangkap peluang bisnis yang ada untuk memulai lagi kepiawaiannnya dalam berbisnis, tentunya dengan bersahabat dengan tumpukan tumpukan sampah.
Suasana Asri Dan Sejuk Banyumas
Dengan mengemudikan mobil sendirian, Gilang memulai perjalanan mudik ke kampung halaman yang saat itu bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadhan yang kata orang orang disebut mudik lebaran. Cemilan dan sejumlah makanan ringan lainnya sudah siap dan berada disamping kursi kemudinya. Pakaian secukupnya sudah berada di bagasi mobil. Tidak lupa bersama sang isteri telah menyiapkan oleh oleh khas lebaran, pakaian gamis untuk orang tua tercinta dan keluarga dekat, lengkap dengan kue kuenya.
Terbayang dalam benaknya, bisa melihat kembali tanah kelahiran yang asri dan sejuk, tempat tumbuh kembang dan banyaknya kenang kenangan manis yang telah membentuk karakter Gilang menjadi pribadi yang santun, kuat, dan pantang menyerah.
Perjalanan dari Ibu Kota Jakarta menuju Banyumas memang menempuh jarak yang lumayan jauh, waktu 5 hingga 6 jam ditempuh dengan roda empat sejauh lebih kurang 356 kilometer. Akan tetapi, rentang waktu perjalanan ini tidak ada arti baginya, yang terpenting bisa segera tiba dan dapat berkumpul dengan keluarga serta menikmati keindahan alam di Banyumas.
Sebab, siapa yang tidak kenal dengan Banyumas ini, wilayah administratif di Jawa Tengah yang memiliki luas 1.327,60 kilometer setara 132.759,56 hektar dengan jumlah penduduk pada tahun 2021 sebanyak 1.840.156 jiwa banyak memiliki pesona wisata alam yang menarik, mulai dari wisata baturaden, air terjun (curug), telaga, hutan, danau hingga bangunan bangunan cagar budaya.

 Hasrat inilah yang ingin dijalani nantinya selama di Banyumas menikmati kebersamaan dengan keluarga dan teman  teman semasa kecil. 
Lambat laun perjalanan semakin mendekat ke Desa Banjaranyar. Angin sepoi  sepoi dan pohon besar terlihat asri di bahu  bahu jalan. Kiri  kanan, ramah sapa dari warga mulai terlihat. Ia pun membalas sapaan dengan senang hati. 
Namun demikian, sedikit pemandangan yang membuatnya menggerutu dalam hati. Dan bertanya  tanya ? Tidak lain ialah banyaknya tumpuk  tumpukan sampah di tepian jalan. Sampah  sampah dapur dan jenis sampah lainnya terhampar di jalanan. Dengan kamera handphonenya, Gilang pun menyempatkan memotret keadaan lingkungan tersebut. 
Maka tidak salah, dalam hatinya ia berbicara, bahwa tidak salah ia pulang kampung untuk membenahi lingkungan di desanya. 

Bukan Untuk Jadi Pahlawan
Permasahan sampah memang menggurita dimana pun, khususnya di Indonesia. Banyaknya jumlah penduduk yang setiap harinya membuang sampah tidak sebanding dengan jumlah tempat pengolahan sampah atau memang kesadaran masyarakat masih kurang terhadap sampah hingga saat ini masih perlu dilakukan riset mendalam. Riset yang diperlukan dan penting, kenapa sampah tidak bisa ditemukan titik pemecah masalahnya.
Sampah begitu saja dibuang, sampah begitu saja dibakar, yang intinya saat ini sampah sampah, baik organik maupun non organik masih banyak dijumpai tidak begitu diberdayakan sebagaimana mestinya.
Kembali ke Banjaranyar, permasalahan sampah menjadi momok bagi warga setempat. Hadirnya Gilang disini, menjadikan dirinya tertantang sekaligus untuk bisa berkreasi bagaimana persamalahan sampah ini cepat teratasi, meskipun tidak secepat kilat. Tapi, perlahan dan pasti permasalahan sampah bisa diuraikan hingga tuntas. Paling tidak, tidak ada lagi tercium bau bau tidak sedap.
Menurutnya, sampah itu bisa menjadi musuh yakni penyakit bila tidak dikelola dengan baik dan sebaliknya kesempatan emas yakni adanya peluang bisnis bila bisa memanfaatkan sampah anorganik seperti plastik dan botol minuman. Sedangkan sampah organik dari sampah sampah rumah tangga bisa dijadikan kompos untuk kebutuhan pupuk tanaman.
Dengan dibantu teman teman yang sepaham, ia pun pada tahun 2018 membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang selaras dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk bersama sama membereskan permasalahan sampah. Hal kecil dengan rutin bersama sama gotong royong membersihkan lingkungan dari sampah.
Bergerak dengan KSM, mulai sampah sampah dilakukan pemilahan. Sampah anorganik menjadi milik warga yang berprofesi menjadi pemulung, sedangkan sampah sampah basah dijadikan kompos. Memproduksi kompos sempat menjadi kesibukan anggota anggota KSM. Produk pupuk berupa kompos dijual kebeberapa petani dan perkebunan.
Dikarenakan jumlah yang terbatas, tempatnya terbatas, dan proses pembuatan waktu yang cukup lama tidak sebanding dengan waktu produksi sampah yang sangat cepat sehingga sampah sampah masih tertumpuk – tumpuk di setiap sudut sudut Banyumas. Terlebih, hari pertama usai Lebaran, jumlah sampah mencapai puncaknya. Dalam artinya tidak bisa tekendali.
Bersama teman di KSM, dirinya terus melakukan sosialisasikan dan mengadvokasi kepada warga untuk bisa mengelolah sampah sendiri di rumah masing masing. Baik sampah organik maupun anorganik kiranya masyarakat bisa mengelola dengan sebaik baknya.
Kehadiran kami, katanya Bukan untuk menjadi pahlawan, tapi kami (KSM) hadir untuk mensosialisasikan bahaya sampah dan pemanfaatan sampah dengan sebagaimana mestinya.
Inginnya desa menjadi asri dan sejuk udara tanpa polusi udara, dan bagaimana keadaan yang baik ini bisa menular kewilayah lain, sambungnya.
Riset 1 Tahun, Maggot Menggeliat
Setelah melakukan beberapa alternatif guna mensiasati belum terkendalinya sampah. Gilang pun akhirnya mencoba dan belajar dari nol budidaya maggot yang kerennya bernama Black Soldier Fly (BSF) dari pembudidaya BSF yang telah memulai budidaya maggot di Banyumas. Sejumlah referensi diperdalam untuk lebih paham bagaimana budidaya maggot yang baik dan benar serta tepat.
Tidak lupa riset dilakukan yang memakan waktu mencapai 1 tahun, terkait potensi dan peluan pasar maggot ini. Belajar dari internet dilakukan, dengan latar belakang yang bertolak belakang dengan gelar strata satunya, ia menyadari harus banyak referensi ilmu untuk budidaya maggot.
Awalnya sampah organik dalam jumlah secukupnya dikumpulkan dalam bak bak sampah yang kemudian dimasukan maggot. Ternyata membuahkan hasil yang tidak cukup baik. Hasilnya berupa pupuk organik yang bisa dimanfaatkan para petani setempat.
Melihat ada permintaan pasar dalam dan luar negeri, apalagi peluang penjualan pupuk kompos dan maggot sangat besar di Banyumas serta juga untuk membatu Pemerintah Daerah dan lingkungan. Dengan dibantu adik ipar dan rekan setim, Gilang memberanikan diri menghadap Bupati Banyumas, Achmad Husein untuk meminta dukungan sinergi dalam pemanfaat sampah organik. Dan syukur Alhamdulillah, ia mensyukuri kehadiran mereka disambut baik oleh Bupati yang sejurus kemudian memerintahkan jajarannya untuk mengarahkan sampah organik yang ada di wilayahnya untuk dikelola oleh mereka.
Diakuinya, Pemerintah Daerah sangat membantu dalam memberikan dukungan berupa tempat untuk mengolah bubur sampah yang kemudian dilaksanakan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Disediakan gedung gedung untuk pengelolaan sampah secara 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Sampah-sampah organik yang diantar tersebut kemudian diolah menjadi bubur sampah untuk pakan larva maggot, bubur sampah tersebut kemudian diproses maggot untuk diolah menjadi pupuk organik. Bermula hanya dengan mengolah sampah di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, kini ia mampu mengolah 5 ton sampah setiap hari yang berasal dari 5.500 rumah dan 72 Instansi Pemerintah di kecamatan Sumbang dan Sokaraja.
Setelah semakin paham dengan ilmu maggot, melewati beberapa waktu,  maggot – maggot yang siap panen dibaginya menjadi dua. Bagian pertama langsung dijual ke petani ikan sebagai bahan pakan hewan karena mengandung protein tinggi, dan yang kedua dikeringkan untuk kemudian dijadikan pakan ternak. Selain itu, maggot juga mengubah dan memproses bubur sampah ini menjadi pupuk organik.
Tidak hanya pupuk organik hasil dari pengolahan maggot, maggot itu sendiri juga berperan dalam  bidang pertanian dan peternakan karena kandungan proteinnya yang lebih banyak daripada pupuk kimia dan pelet ternak biasa. Selain itu, harga produk pakan dan pupuk yang dihasilkan juga lebih murah daripada pupuk kimia dan pelet ternak biasa.
Membantu Program Pemerintah Banyumas
Berjalannya upaya keras Gilang dan kawan kawan bertahap mengurangi kuantitas sampah di Banyumas yang menjadi momok menakutkan sekaligus musuh bersama, artinya sampah organik perlahan bisa teratasi.
Jumlah sampah yang harus dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) juga berkurang akibat pelaksanaan program ini. Selain itu, tidak ada lagi timbunan sampah di sudut – sudut desa karena langsung dikumpulkan dan diproses oleh petugas pengumpul sampah dari program gagasannya, sehingga kebersihan lingkungan di Kabupaten Banyumas meningkat.
Sebelumnya, pengelolaan sampah di Banyumas tergolong sangat buruk karena sampah tidak rutin  diambil dan langsung begitu saja dibuang ke TPA. Pengelolaan sampah seperti jauh dari ideal. Tanpa pengelolaan dan pengolahan lebih lanjut, sampah yang begitu saja dibuang di TPA ibaratnya hanya memindahkan masalah. Bau menyengat memang tidak ada di sekitar warga lagi namun berpindah di area TPA. Tanpa pengelolaan dan pengolahan sampah, TPA jadi cepat penuh.
“Program yang dijalankan, Alhamdulillah dapat memproses setidaknya lima ton sampah organik setiap hari. Setelah diproses oleh maggot maggot, sampah yang tidak dapat diurai hanya tersisa 30%, yang kemudian berakhir di TPA, papar pria kelahiran 8 September 1986 ini.
Beri Dampak Ekonomi Masyarakat
Tidak terasa, upaya keras bersama rekan rekannya memberikan hasil. Sedikit teringat olehnya, perjalanan panjang dari Jakarta menuju Banyumas dan harapan untuk berbuat baik untuk lingkungan tanah leluhurnya.
Hasil hasil dari produk maggot sudah memberikan hasil, di lahan per 2 meter persegi yang mampu menghasilkan 40 kilogram maggot perhari minimalnya dengan totalnya 12 ton perhari yang bisa berdampak kepada masyarakat yang setidaknya beranggotan 115 orang masyarkat terbantu secara ekonomi dari hasil fokus pada pengelolaan sampah organik.

Ekspansi Bisnis
Dengan terbantunya Pemerintah Daerah, membuat langkah kedepan semakin optimis. Dalam waktu dekat, ia bersama rekan rekannya akan memulai ekspansi bisnis ke Kabupaten tetangga.
Ia mensyukuri nikmat Tuhan, dan menyadari perbuatan yang baik yang dilakukan tulus, ikhlas dan pantang menyerah pasti akan menghasilkan hasil yang baik juga.
Dan paling membanggakan, ia bertutur bisa menjadi bagian dari Satu Indonesia Awards yang dihelat Astra menjadi penghargaan terbaik baginya. Terima kasih kepada rekan media yang merekomendasikan dirinya menjadi bagian dari program baik ini. Dan apresiasi setinggi tingginya untuk Astra yang secara kontinuitas membimbing ia dan rekan setim.
Kepada pemuda pemudi di seluruh Nusantara, ia berpesan untuk bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik baiknya.
Manfaatkanlah waktu, karena sebagai pemuda kita diberikan kesempatan berupa waktu yang sama, jadi manfaatkanlah dengan baik, bukan hanya untuk kita, tapi juga bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat semua, tutup Gilang. (*)

Nama : Heru Fachrozi
Media : www.rubrikini.co.id
Kontak Person : 0813 2030 0634

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.